Sabtu, 30 Maret 2013

Edelweis Anaphalis Javanica


Edelweis Anaphalis javanica adalah tumbuhan gunung yang terkenal, tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 m dan memiliki batang sebesar kaki manusia, tetapi tumbuhan yang cantik ini sekarang sangat langka. Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar - akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara.


Bunga - bunganya sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu - kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya. Jika tumbuhan ini cabang - cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian - bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan - alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang - kenangan oleh para pendaki.

Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan - potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi. Sayangnya keserakahan serta harapan - harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan - jalan setapak.

Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Gunung Gede - Pangrango. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang - cabangnya. Oleh karena itu potongan - potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

Perhatikan daunnya yang panjang, tipis dan berbulu lebat serta bagian tengah bunganya yang berwarna oranye dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster. Bunga Edelweis bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun, untuk itulah disebut bunga abadi. Jenis ini tumbuhan perintis yang kuat dan mulai mendiami lereng yang tandus akibat kebakaran. Edelweis cocok tumbuh pada kondisi panas terik di daerah terbuka di kawah dan puncak, tidak bisa bersaing untuk tumbuh di hutan yang gelap dan lembab.

sumber.. http://www.belantaraindonesia.org/2009/12/edelweis-anaphalis-javanica.html

Jumat, 29 Maret 2013

Puncak Bukan Segalanya

kebersamaan adalah inti nya...

Puncak gunung, selama ini bagi para penggiat alam bebas pendaki gunung merupakan tujuan akhir dari apa yang di lakukan yang di awali dari niat dan impian. Jadi, jika kita mendaki tingginya gunung, tak akan "syah" dimata para petualang gunung lain, bila kita tak sampai bisa menggapai puncak. Sehingga apapun caranya dan bagaimanapun keadaannya, kita selalu berusaha mencapai puncak tertinggi dari gunung yang kita daki.


Tetapi benarkah syah dan tidaknya pendaki gunung jika telah bisa menggapai puncak tertinggi dari gunung yang di daki? Hanya sesederhana itu? Ada sebuah cerita dari sebuah novel Jepang.

Ada yang berpetuah bahwa hidup ini bagaikan mendaki gunung. Orang yang sukses otomatis adalah mereka yang mampu mencapai ketinggian gunung tersebut. Dan ini menjadi ukuran kesuksesan seseorang. Tapi petuah itu tidak berlaku bagi Hideyoshi, tokoh dalam novel Eiji Yoshikawa, Taiko.

Tujuan hidup ini adalah bukan mencapai puncak ketinggian. Ukuran kesuksesan bukan ketika berada pada puncak gunung. Tujuan hidup adalah menyadari kenikmatan. Dan kenikmatan itu ditemukan dalam perjalanan menuju puncak tertinggi, saat melintasi jurang, saat mendaki tebing terjal, saat terjebak di tengah hutan, saat terancam binatang buas. Lalu, dimanakah kenikmatannya?

Kenikmatannya adalah saat kita bisa menyelesaikan permasalahan itu. Saat kita mampu melindungi diri dari ancaman. Jadi tujuan hidup itu adalah menginsyafi pergulatan hidup itu sendiri.

Mari kita mengambil metode seperti kronikel, bahwa selembar photo dan sertifikat yang sering menjadi acuan sebagai bukti pendakian kita adalah simbolik, tetapi tidak menunjukkan peristiwa itu sendiri. Proses pendakian yang lebih dalam, pernik dan krisis pendakian sebuah tim dipandang dari urutan awal hingga akhir. Hal ini akan membuat kita lebih mudah sadar dan mengerti, setiap pendakian gunung dimana saja, janganlah dipandang sebuah hasil akhir saja. Tetapi harus dilihat adanya proses panjang yang menentukan seorang pendaki itu adalah pendaki yang sebenarnya. Jadi, tak salah bila kami menyebut: Puncak Bukan Segalanya.